Peta Kalbu
Perasaan apa yang harus kupilih
Sedang angin-angin bingung untuk bertiup
Kadang bayang-bayang pergi jika kututup telinga
Dan mata hatiku memanggil gaung namamu
Kalau saja samudera itu tanpa riak
Enggan mungkin kakiku beranjak
Bianglala hijau memanggil resapan air
Pada sebongkah batu kuukir harap
Tapi Cinta ini...tetap mengalir...
Waktu-waktu terbaik kita
Adalah sejarah masa muda
Renta dunia tak mengenal rasa
Rinduku menggantung...
Pada aspal-aspal lain benua
Jika peta kalbu bisa kubuka
Kujelajahi satu persatu jatuh bangun realita
Mata-mata serdadu cinta
Terbunuh mesra oleh waktu lama
Mayat-mayat tersenyum harap
Jejak penguasa cinta meresap hangat
Dalam dimensi ruang...dalam senyap
Hanya sinar harapan
Menjadi prasasti sisa perjuangan
Sedang angin-angin bingung untuk bertiup
Kadang bayang-bayang pergi jika kututup telinga
Dan mata hatiku memanggil gaung namamu
Kalau saja samudera itu tanpa riak
Enggan mungkin kakiku beranjak
Bianglala hijau memanggil resapan air
Pada sebongkah batu kuukir harap
Tapi Cinta ini...tetap mengalir...
Waktu-waktu terbaik kita
Adalah sejarah masa muda
Renta dunia tak mengenal rasa
Rinduku menggantung...
Pada aspal-aspal lain benua
Jika peta kalbu bisa kubuka
Kujelajahi satu persatu jatuh bangun realita
Mata-mata serdadu cinta
Terbunuh mesra oleh waktu lama
Mayat-mayat tersenyum harap
Jejak penguasa cinta meresap hangat
Dalam dimensi ruang...dalam senyap
Hanya sinar harapan
Menjadi prasasti sisa perjuangan
Komentar
Posting Komentar